BATASAN LAMANYA SUAMI JAUH DARI ISTRINYA
Seperti kita tahu menjaga keutuhan rumah tangga bukanlah perkara yang mudah ada begitu banyak ujian pernikahan yang akan dihadapi dan hubungan pernikahan akan menjadi rumit, jika pasangan suami istri terpaut jarak alias pernikahan jarak jauh.
Lalu bagaimana islam memandang hal ini?
Dalam islam sendiri kebersamaan suami istri dalam satu rumah begitu penting disamping menumpahkan kasih sayang, kebutuhan biologis dan saling membantu serta mendukung saat masing-masing pribadi memiliki permasalahan. Tujuan pernikahan dalam islam juga untuk mewujudkan rasa aman, nyaman, tenang serta sakinah mawadah warohmah.
Seperti dalam firman Allah yang artinya: “Dan diantara tanda-tanda kekuasaannya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri. Supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar Rum 21).
Dan pernikahan yang sakinah mawadah warohmah sejatinya dapat terbentuk jika pasangan tersebut mencari rejekinya didekat rumahnya. Maka hal ini mengisyaratkan jika memungkinkan pasangan suami istri sebaiknya hidup berdampingan untuk saling menjaga memberi nyaman dan bisa meluapkan kasih sayang lebih mudah serta mengamati tumbuh kembang anak secara bersama.
Namun bagaimana jika suami istri terpaksa harus tetap menjalani cinta jarak jauh? Berapakah lama maksimal waktu mereka tidak bertemu dalam islam dengan alasan bekerja atau sebab lain?
Syaikh doktor Suad Saleh mengatakan batasan maksimum suami diperbolehkan berada jauh dari istrinya adalah 4 bulan. Dan menurut Ulama Hanbali batasannya adalah 6 bulan dan batasan ini merupakan waktu maksimum seorang wanita dapat bertahan berpisah dari suaminya.
Mengapa dalam islam hal ini dibahas?
Karena ada sebuah kisah dari Khalifah Umar Bin Khatab, kala itu ia sedang berkeliling ditengah malam untuk melihat kondisi nyata masyarakat. Tiba-tiba disebuah rumah ia mendengar suara wanita yang tengah meratap, Umar lalu menyelidiki dan mengetahui ternyata wanita tersebut memang ditinggal suaminya untuk bertugas pada dinas militer atau berperang. Kemudian Umar bertanya kepada putrinya Hafzah atau janda Rasulullah SAW mengenai berapa lama seorang wanita dapat bertahan ditinggal pergi suaminya dan kemudian Hafzah menjawab selama 4 bulan.
Hingga peristiwa ini memicu umar membuat peraturan jika tentara yang berperang melawan musuh atau menjaga perbatasan maka ia harus pulang dan diganti yang lain tidak melebihi dari 4 bulan. Namun jika istri merelakan suami untuk pergi lebih dari 4 bulan untuk urusan tertentu dan ia ikhlas untuk tidak diberi hak-hak dari batiniah selama itu maka hal ini merupakan suatu pengecualian dan saat keduannya telah membuat kesepakatan.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan jika sedang menjalani pernikahan jarak jauh. Yang pertama adalah ridho, jangan menganggap sepele hal satu ini. Perasaan ikhlas dan ridho atas pernikahan yang dijalani secara berjauhan memang harus terbentuk kedua belah pihak dengan jalan komunikasi yang dibina dengan baik. Namun jika salah satu pihak keberatan dikemudian hari pasti akan membuat ketidak harmonisan dalam keluarga.
Yang kedua, kita juga harus ingat bahwa kita sering meluangkan waktu untuk pulang kerumah atau menjenguk maka hal ini lebih baik. Jika ada waktu senggang maka suami atau istri bisa saling bertemu dan harus sampai hari kesepakatan bertemu. Dan apabila suami tak bisa pulang kerumah karena kesibukannya maka jika memungkinkan sang istri bisa bergantian mendatangi suami.
Selanjutnya mencoba mengikuti anjuran Umar Bin Khatab yakni maksimal 4 bulan berpisah dengan suami atau istri. Namun memang suatu darurat seperti dalam keadaan perang kondisi gawat disuatu daerah konflik atau mengerjakan proyek yang tak bisa ditinggalkan maka hal ini menjadi pengecualian dengan pembicaraan yang intens dengan istri.
Hati-hati dengan perangkap media sosial dan semacamnya, tanpa pengawasan masing-masing pihak maka kemudahan dunia hanya di zaman sekarang ini akan menjadi racun dan buah simalakama bagi keharmonisan rumah tangga. Karena hubungan pernikahan jarak jauh mengandung resiko besar yakni masuknya hati lain dikehidupan suami istri untuk menjaga komitmen pernikahan memang harus diperkuat.
Dan yang terakhir jika tidak ada alasan yang penting bagi suami istri untuk bertahan dikota asal maka sebaiknya dimana suami bertugas istri cobalah untuk mengalah menerimanya walau pedalaman sekalipun. Karena pada dasarnya dukungan istri dan keluarga amat sangat penting untuk kesuksesan dan keharmonisan rumah tangga. Dan surga adalah hadiah terindah buat istri yang mau mengorbanan kesenangan termasuk kenyamanan dikota asal untuk mengikuti suami. Jangan sampai karena alasan pekerjaan hubungan suami istri terpaksa berpisah padahal sebenarnya masih bisa dijangkau atau dikomunikasikan hal terbaiknya bersama-sama.
Pernikahan jarak jauh memang memiliki tingkatan resiko yang tinggi dari pernikahan pada umumnya. Namun jika memang komitmen pernikahan diperkuat maka resiko yang mengintai keutuhan rumah tangga tentu lebih kecil. Banyak-banyaklah berdoa dan memohon kepada Allah untuk melindungi dan terus menyatukan kehidupan pernikahan dijalani baik secara biasa saja terlebih jika pernikahan dijalankan secara jarak jauh karena hanya Allah lah yang Maha tau yang terbaik bagi kehidupan rumah tangga kita.