Rabu, 25 Mei 2016

SEJARAH DAN AKULTURASI BUDAYA MASJID AGUNG PALEMBANG

SEJARAH DAN AKULTURASI BUDAYA MASJID AGUNG PALEMBANG

Setiap daerah di Indonesia bangunan masjid mempunyai perbedaan dan ciri khusus dari segi arsitekturnya. Dalam segi arsitekturnya sering terjadi akulturasi budaya setempat atau budaya lokal. Akulturasi merupakan proses pembudayan lewat percampuran dua kebudayaan atau lebih sering bertemu dan saling mempengaruhi percampuran dan perpaduan budaya itu bisa berkenaan dengan wujud budaya yang monumental. Begitu pula yang ditampilkan Masjid Agung Palembang atau yang memiliki nama lain Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin I atau juga dikenal dengan Masjid Sultan ini. Seperti namanya masjid ini adalah sebuah masjid terbesar di Palembang Sumatra Selatan.

Dilihat dari bentuknya masjid agung Palembang mempunyai ciri khas perpaduan 3 kebudayaan yaitu kebudayaan Indonesia, Eropa dan Tiongkok. Tiga ciri kebudayaan tersebut melekat dalam setiap lekuk bangunan masjid. Pada pintu utama masjid menunjukan adanya pengaruh kebudayaan Eropa. Pada bagian atap masjid utama terlihat adanya pengaruh Tiongkok karena bentuknya yang mirip klenteng. Sementara akulturasi budaya Indonesia terlihat dari menara terdapat ciri khas kerap kaitannya dengan kebudayaan nusantara. Ujung menara dari masjid ini berbentuk kerucut seperti tumpeng atau gunungan yang mempunyai makna hubungan manusia dengan tuhannya, manusia dengan alamnya dan manusia dengan sesama manusia.

Masjid Agung Palembang yang kita lihat saat ini adalah hasil inovasi dan perluasan yang dikerjakan pada tahun 2000-2003. Tercetusnya ide pembangunan masjid agung Palembang ini bermula pada sebuah masjid lebih dahulu didirikan oleh Ki Gede Ing Suro Sultan Palembang terdahulu hangus terbakar. Menurut kabar yang beredar masjid ini dihancurkan oleh Mayor Van der Laen saat perang Palembang melawan Belanda 1659. Akhirnya pada abad 18 atau tepatnya pada tanggal 20 Mei 1748 Masehi Sultan Mahmud Badaruddin I Jaya Wikromo membangun masjid sultan ini. Luas bangunan masjid ketika itu sekitar 1080 meter persegi dan dapat menampung jamah hingga 1200 orang dan pada masa tersebut masjid ini menjadi masjid terbesar di Indonesia.

Pada saat itu lokasi masjid ini berada dalam komplek kraton kesultanan Palembang tepat dibelakang benteng kuto besar. Kini masjid agung Palembang ini terletak dikelurahan 19 hilirnkecematan hilir satu Palembang. Masjid ini berada dipersimpangan jalan Jenderal Soedirman sebelah timur sedangkan sebelah barat berbatasan dengan jalan guru-guru yang sekarang sudah diganti namanya menjadi Fakih Uman. Menurut penelitian sejarahwan Johan Mahanafiah dulu jalan ini dinamakan guru-guru karena disamping ini bermukim guru-guru agama islam. Mereka mengajarkan ngaji Al Quran, fikih dan ilmu agama lainnya yang berpusat dimasjid agung.

Jika masjid Pulau Sumatra pada umumnya berbentuk kubah namun masjid agung ini memiliki ciri khas tersendiri yaitu mustaka yang dimilikinya. Masjid yang mustaka adalah masjid yang mempunyai atap bagian atas yang terpisah dengan atap bagian bawahnya. Atap dibawahnya ini ditopang oleh pilir-pilar diatas tanah dan jika dilihat secara seksama maka kepala dari masjid ini seperti terpisah dari leher tubuh masjid. Seiring berjalannya waktu masjid ini telah banyak mengalami pemugaran sehingga beberapa bentuknya tidak lagi sama dengan yang dulu. Namun tetap tidak menghilangkan bangunan asli masjid ini tetap terlihat kokoh berdiri bahkan hingga lebih dari 2,5 abad. Itulah sejarah singkat pembangunan Masjid Agung Palembang ini semoga informasi ini dapat menambah wawasan kita dalam dunia seni sejarah islam nusantara.

JEMBATAN AMPERA

JEMBATAN AMPERA

Jembatan ampera memang sangat identik dengan kota Palembang, jembatan ini bisa dikatakan menjadi salah satu icon kota terletak ditengah-tengah kota Palembang dan menjadi jembatan terpanjang se Asia Tenggara. Selain itu jembatan yang menghubungkan daerah seberang hulu dan seberang hilir ini juga memiliki fungsi yang sangat penting bagi transportasi pulau Sumatra. Jembatan ini dulunya dapat naik dan turun ketika ada kapal besar yang melewati jembatan tersebut. Akan tetapi untuk alasan keamanan dan untuk menghindari kerusakan konstruksi maka penggerak jembatan ampera dilepas maka otomatis sejak saat itu jembatan ampera tidak dapat lagi dinaikan.

Pemikiran untuk membangun sebuah jembatan diatas aliran sungai musi sudah ada sejak masa kolonial Belanda ditahun 1906. Muncul gagasan untuk menyatukan seberang hulu dan seberang hilir kota Palembang yang dipisahkan aliran sungai musi dengan membangun sebuah jembatan. Ide ini kembali mencuat 1924 ketika kota Palembang dipimpin oleh seorang presiden Le Cocq de Ville, seorang presiden berangkat ke Batavia guna meminta bantuan guna merealisasikan ide tersebut. Ternyata hingga pemerintahan Hindia Belanda runtuh ketika Jepang menginfasi Nusantara tahun 1942 pembangunan jembatan itu juga belum terealisasi.

Barulah ketika Indonesia merdeka tepatnya dipertengahan tahun 1950 an pembicaraan pembangunan jembatan musi dibuka kembali pada tahun 1956 pada sebuah rapat parlemen daerah telah diputuskan agar seluruh jajaran Palembang untuk membangun jembatan musi tersebut. Kemudian mereka berbicara kepada Bung Karno dan Bung Karno sangat setuju bahkan Bung Karno berkata bahwa dirinya ingin membangun jembatan bukan saja membangun ekonomi rakyat tetapi juga jembatan yang mampu mengugah daya sadar rakyat serta bisa menjadi lambang kota Palembang. Pada 1962 pembangunan jembatanpun dimulai dengan ditandai peletakan batu pertama oleh Bung Karno dan pada tahun 1965 jembatan itupun tuntas dibangun dan rakyat Palembang menamai jembatan tersebut sebagai jembatan Bung Karno. Hal tersebut merupakan manifestasi rasa terimakasih warga Palembang pada Bung Karno yang telah berjasa membangun jembatan yang nantinya menjadi icon kebanggaan rakyat.

Tak lama setelah jembatan Bung Karno berdiri gejolak politik menghantam Indonesia sejak oktober 1965 sebagai buah pertentangan ideologis yang meruncing dimasyarakat. Salah satu bentuk dari likuidasi secara simbolik adalah pengubahan nama bangunan atau sarana publik yang awalnya menggunakan Bung Karno, salah satu korbannya jembatan Bung Karno diatas sungai musi yang diganti namanya menjadi jembatan ampere. Pengubahan nama jembatan bung karno menjadi jembatan ampera atau amanat penderitaan rakyat ini tiada lain merupakan usaha rezim baru untuk mengabaikan jasa Bung Karno dalam proses pembangunannya. Berdirinya jembatan ampera ini layaknya jembatan penyambung silaturahmi antara warga Palembang didaerah hulu dan warga Palembang daerah hilir kota Palembang. Dengan adanya jembatan ampera kedua wilayah dipisah sungai musi tersebut dapat melakukan akses untuk menyebrang dari hulu ke hilir atau sebaliknya sehingga jalinan silaturahmi dapat terus terjalin.

Bahkan dalam islampun sangat dianjurkan untuk saling menjalin silaturahmi, sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang artinya: “Siapa yang bertakwa kepada Rabb Nya dan menyambung silaturahmi niscaya umurnya akan diperpanjang dan hartanya akan diperbanyak serta keluarganya akan mencintainya.” (HR. Bukhari).

Sebaliknya Allah SWT akan melaknat siapa saja yang memutus silaturahmi antara sesama sebagaimana firman Allah SWT yang artinya: “Orang-orang yang memutuskan melanggar perjanjian Allah yang telah mereka ikrarkan kepada Allah dan mereka memutuskan silaturahmi yang Allah perintahkan supaya disambung dan mereka melakukan kerusakan diatas bumi maka bagi mereka laknat dan bagi mereka tempat kembali yang buruk.” (QS. Ar Ra’d 25).

Sebagaimana penjelasan ini dapat menambah wawasan kita dalam ilmu sejarah dan semoga penjelasan ini juga dapat mengingatkan kita akan betapa pentingnya menjalin silaturahmi antar sesama umat manusia.