Kamis, 07 April 2016

KISAH HIDUP SITI KHODIJAH

KISAH HIDUP SITI KHODIJAH

Para wanita muslimah hendaknya mengambil contoh dan teladan dari tokoh-tokoh wanita dunia yang telah mendahului mereka. Khususnya tidak disanksikan lagi keshalehannya dan telah diberikan kabar gembira oleh Allah SWT dengan surga. Mempelajari sirah dan perjalanan mereka adalah sangat penting karena dengannya dapat menatap kedepan, menempuh kehidupan yang lebih sempurna dan kebahagiaan didunia dan akhirat. Salah satu tokoh wanita yang patut dijadikan suri teladan para wanita muslimah sekarang adalah siti khodijah. Istri Rasulullah SAW, khodijah adalah seorang wanita yang pertama kali memeluk islam dan salah satu wanita yang terkemuka didunia.

Rasulullah SAW bersabda: “Para wanita penghuni surga setelah Maryam adalah Fatimah, Khodijah dan istri Fir’aun.” (HR. Ahmad).
Khodijah merupakan sosok pertama yang mendapat salam dari Allah SWT melalui malaikat jibril.

Hal ini dijelaskan dalam sabda Rasulullah SAW: “Wahai khodijah, ini malaikat jibril telah datang dan menyuruhku untuk menyampaikan salam dari Allah kepadamu dan memberikan kabar gembira kepadamu dengan rumah yang terbuat dari kayu tidak ada keributan dan rasa capai didalamnya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Setelah mengetahui bahwa khodijah adalah wanita ahli surga dari hadis tersebut.

Kita sebagai wanita muslim pada abad ini harus mencari sebab musabab mengapa khodijah menjadi ahli surga?

Rahasia yang menjadikan khodijah masuk surga ternyata telah diungkapkan sendiri oleh Rasulullah SAW dalam suatu hadisnya. Tepatnya pada suatu hari Aisyah merasa cemburu dengan khodijah yang walupun sudah lama meninggal akan tetapi Rasulullah SAW masih saja terus mengingat-ingat kebaikannya. Ketika itu Aisyah berkata kepada Rasulullah SAW: Wahai Rasulullah bukankah Allah SWT telah menggantikannya dengan istri lebih muda dan lebih baik darinya? Mendengar pernyataan tersebut Rasulullah menjadi murka seraya bersabda: “Tidak, demi Allah, tidak ada yang bisa menggantikannya. Dia beriman kepadaku disaat kebanyakan orang mengkhafiriku, Dia membenarkanku pada saat mereka mendustakanku, Dia membantuku dengan hartanya ketika mereka meninggalkanku dan darinya dikaruniani keturunan pada saat istri-istriku yang lain tidak bisa mempunyai anak.” (HR. Ahmad no 24864 dan dishahihkan oleh para petahqiq musnad ahmad). Dari hadis tersebut kita dapat menyimpulkan bahwa Rasulullah SAW telah menerangkan 3 jenis muslim sejati yang terdapat pada sosok khodijah yang menyebabkan khodijah masuk surga.

Lalu apa sajakah 3 hal tersebut?

Mempunyai keimanan yang tangguh, keimanan yang tangguh ini mempunyai beberapa ciri diantara: pertama keimanan tersebut tumbuh dari kesadaran atas dasar ilmu bukan dari ikut-ikutan atau takut dikucilkan. Hal ini terlihat jelas ketika khodijah telah berani menyatakan keimanannya kepada Nabi Muhammad SAW disaat orang lain menghindar dan mengkhafirinya.

Kedua mendukung orang-orang yang membawa kebenaran, siapapun tanpa pandang bulu, sekalipun dia bukan dari golongan atau kelompoknya. Dan yang ketiga diyakini bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan orang-orang yang selalu menyebarkan kebenaran dan berbuat baik kepada orang lain.

Terlihat jelas pada diri siti khodijah ketika Rasulullah SAW pulang dari gua hira dalam keadaan takut dan cemas setelah ditemui malaikat jibril beliau mengatakan kepada siti khodijah selimutilah saya, selimutilah saya, selimutilah saya. Melihat keadaan suaminya seperti itu siti khodijah mempunyai keimanan yang tangguh tidak lantas ikut panik dan menjerit-jerit tetapi tetap tegar dan mengatakan: “Sekali-kali tidak! Demi Allah. Sekali-kali Allah tidaklah akan menghinakan kamu selamanya. Sesungguhnya anda benar-benar orang yang suka menyambung tali persudaraan, menghormati para tamu, menganggung orang-orang yang membutuhkan, berusaha memenuhi kebutuhan orang-orang yang tidak mampu dan membantu orang-orang  yang ditimpa musibah.” (HR. Al Bukhari no 3 dan Muslim no 160).

Menginfakkan hartanya untuk sebuah perjuangan, sebab kedua yang mengantarkan siti khodijah sebagai penghuni surga adalah keikhlasannya dalam menginfakkan hartanya dijalan Allah demi tegak dan tersebarnya islam. Banyak contoh serupa yang menguatkan perkataan tersebut bahwa infak dijalan Allah adalah suatu jalan yang mengantar seseorang untuk masuk surga. Ini juga terlihat dengan jelas pada diri sahabat abu khalifah ke tiga Usman Bin Afan yang menginfakan seagian hartanya untuk biaya perang fisabilillah.

Allah SWT berfirman yang artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan RasulNya. Kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. Al Hujurat 15).

Membuat ridha suami, sebab terakhir hal ini khodijah mempu memberikan perhatian, kecintaan, keturunan bagi suaminya. Dalam riwayat lainnya disebutkan bahwa khodijah tidak bersuara diatas suara suaminya. Yang jelas khodijah telah mengetahui kadar keagungan suaminya dan memberikan terbaik keagungannya. Itulah jati diri seorang muslimah sejati yang semuanya ada didalam sosok wanita siti khodjah. Semua hal ini bisa menjadi cermin diri kita semua tidak hanya wanita dari semua kalangan muda hingga yang tua, dari wanita hingga pria.

Rabu, 06 April 2016

MENELADANI AKHLAK RASULULLAH SAW

MENELADANI AKHLAK RASULULLAH SAW

Allah SWT berfirman yang artinya: “Sesungguhnya telah ada pada (hari) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (mendatangkan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al Ahzab 21).

Dalam ayat ini Allah SWT menjelaskan bahwa mereka yang meneladani Rasulullah SAW adalah mereka yang lurus taufiknya kepada Allah. Mereka yang selalu mengharapkan keridhaan Allah dan balasan terbaik diakhir kelak. Dan mereka yang menghiasi hari-harinya banyak mengingat Allah SWT.

Akhlak yang mulia merupakan pilar kejayaan suatu umat terbukti dengan sempurnanya akhlak kaum muslimin dibawah binaan Rasulullah SAW. Agar orang-orang sekelilingnya mau mengikuti, beliau menerapkan akhlakulkarimah terlebih dahulu pada dirinya.

Diantaranya akhlakkulkarimah sudah Rasulullah SAW contohkan bahkan jauh sebelum diangkat sebagai nabi dan rasul. Sifat jujur, amanah, cerdas, bertanggungjawab serta mampu menjauh dari hal yang sia-sia dapat melahirkan kepercayaan yang tinggi dari masyarakat sekitarnya hingga beliau diberi gelar Al Amin. Hal tersebut tidaklah berubah bahkan setelah beliau diangkat sebagai nabi dan rasul.

Sebuah hadis diriwayatkan bahwasanya Rasulullah itu pendiam sampai ia perlu bicara, ia ramah kepada setiap orang, beliau tidak pernah mengucilkan seorangpun dari pergaulannya, beliau mengharmati yang terhormat pada setiap kaum dan memerintahkan mereka untuk menjaga kaumnya. Beliau selalu bersikap hati-hati dalam berperilaku sopan untuk menunjukan wajah yang ramah pada mereka. Beliau suka menanyakan keadaan pada sahabat-sahabatnya dan keadaan orang-orang disekitar mereka, misalnya keluarganya atau tentangganya. Dalam berkeluarga Rasulullah tidak malu untuk turun tangan untuk meringankan pekerjaan istri.

Sebuah hadis dari Aisyah: Beliau sering membantu istrinya. Bila datang waktu shalat. Beliau pun keluar untuk mengerjakan shalat.” (HR. Bukhari).

Rasulullah SAW bekerja bukan untuk menumpuk kekayaan duniawi untuk meraih ridha Allah SWT. Menerapkan akhlakulkarimah dalam proses bekerja dan bahkan Rasulullah dengan cara melakukan yang terbaik, professional dan tidak asal-asalan. Seperti ketika beliau berdagang beliau bersedia menjelaskan dengan jujur harga barang dan menjualnya dengan harga tidak jauh berbeda. Rasulullah menjadikan bekerja sebagai aktualisasi keimanan dan ketakwaan.

“Setiap umatku masuk surga selain yang enggan.”Para sahabat bertanya: Wahai Rasulullah lantas siapa yang enggan? Rasulullah menjawab: Siapa yang taat kepadaku (mengikuti aku) masuk surga dan siapa yang menyelisihi aku berarti ia enggan.” (HR. Bukhari no 6737)

Dengan hadirnya bulan rabiulawal yang mana adalah bulan Rasulullah dilahirkan, ada baiknya kita semua tidak hanya sekedar merayakannya. Alangkah baik membuat bulan ini sebagai pengingat bagi kita semua akan pentingnya meneladani akhlak Rasulullah sebagai contoh serta menerapkannya dalam kehidupan yang kita jalani.

Selasa, 05 April 2016

KENAPA BIDADARI SURGA MENGUTUK PARA ISTRI?

KENAPA BIDADARI SURGA MENGUTUK PARA ISTRI?

Al Quran yang mulia seringkali menyebutkan kenikmatan yang Allah janjikan pada hambanya yang mana akan diperoleh nanti disurga. Surga adalah tempat dialam akhirat penuh dengan keselamatan, kesejahteraan, kebahagiaan dan kemuliaan. Disanalah tempat segala keindahan dan kesenangan yang belum pernah kita lihat dan belum pernah kita nikmati didunia. Karena itulah dalah surat Al Kahf ayat 31 dikatakan bahwa surga adalah sebaik-baiknya pahala dan merupakan tempat istirahat yang indah.

Sedangkan Allah juga menegaskan firmannya yang artinya: “Penghuni-penghuni surga pada hari itu paling baik tempat tinggalnya dan paling indah tempat istirahatnya.” (QS. Al Furqan 24). Dari sepenggal firman Allah terseut dapat disimpulkan betapa indahnya surga itu dimana hamba Allah yang dicintai berkumpul dan mendapat banyak kenikmatan berbagai hidangan lezat dan menggiurkan serta hidup kekal ditemani bidadari-bidadari surga.

Terkait dengan bidadari surga, sebenarnya Allah SWT telah lama mempersiapkan para bidadari cantik ini yang kelak menemani seorang lelaki muslim. Dalam sebuah ayat Allah juga dijelaskan bahwa kecantikan bidadari surga ini tak tertandingi oleh jagad alam semesta serta isinya. Begitu indah dan cantik wanita penduduk surga diciptakan Allah SWT. Mereka diciptakan dalam bentuk dan sifat yang sempurna dan tidak dapat binasah.

Sebagaimana firman Allah SWT yang artinya: “Sesungguhnya kami menciptakan mereka (wanita surga) dengan langsung dan kami jadikan mereka gadis-gadis perawan penuh cinta lagi sebaya umurnya.” (QS. Al Waqi’ah 35-37).

Apa tugas bidadari surga ini? Lantas mengapa bidadari surga bisa mungutuk istri didunia?

Para bidadari cantik yang diciptakan Allah disurga ternyata memilki tugas menunggu. Siapa yang ditunggu oleh bidadari surga? Tak lain tak bukan adalah menunggu suaminya yang merupakan seorang laki-laki shaleh yang senantiasa melakukan kebajikan selama didunia. Sebelum datanya kiamat kabarnya mereka juga selalu mendoakan atas suatu kebaikan bagi calon suaminya nanti. Tidak hanya mendoakan untuk calon suami kelak, para bidadari surga juga mendoakan para istri yang menjadi pasangan calon suaminya didunia. Namun doa yang dipanjatkan oleh bidadari surga hanya berlaku bagi seorang istri yang durhaka dan selalu menyakiti hati suaminya yang taat kepada Allah SWT.

Sebagaimana sebuah hadis Muaz Bin Jabal, Rasulullah SAW bersabda: “Jika seorang istri menyakiti suaminya didunia, maka calon istrinya diakhirat dari kalangan bidadari akan berkata: janganlah engkau menyakitinya. Semoga Allah mencelakakanmu sebab ia hanya sementara berkumpul denganmu. Sebentar lagi ia akan berpisah dan akan kembali kepada kami.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Tersirat dari hadis tersebut para bidadari sebenarnya memberikan nasihat dan peringatan bagi para wanita untuk senantiasa menjaga hubungan baik dengan suaminya. Dan jangan sekali-kali menentang perintah baiknya dan bahkan tega melukai hati suaminya yang shaleh.

Lantas apa yang harus dilakukan oleh para istri didunia agar tidak didoakan keburukan?

Kita tidak dapat menyalahi kodrat bahwa memang seorang wanita itu identik dengan banyak bicara. Akan tetapi apabila menjadi seorang istri maka sebaiknya menjaga lisan didepan suami maupun orang lain. Karena Allah SWT berfirman yang artinya: “Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada didekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaaf 18).

Mungkin banyak diantara kita kaum istri yang tanpa sadar mengeluarkan ucapan paling menyinggung atau meukai harga diri suami. Bahkan mungkin secara tak sengaja telah menukai suami kita sendiri.

Patuh pada perintah suami melayani suami dengan baik, sayang dengan keluarganya serta mengajarkan kebaikan kepada anak-anaknya itu ciri seorang istri yang shalehah. Selain itu menjadi istri yang shalehah itu kita telah menjadi lebih baik dari perhiasan dunia.

Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda: “Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baiknya perhiasan dunia adalah istri yang shalehah.” (HR. Muslim).
Bidadari surga yang cantik yang memiliki tugas menunggu calon suaminya kelak mereka juga berdoa untuk calon suaminya dan berdoa untuk istri calon suaminya didunia. Namun doa bidadari untuk istri hanya bila istri menyakiti hati calon suaminya. Tetapi sebagai istri jangan bersedih hati, karena itu dapat memacu kita seorang istri yang baik didunia maupun akhirat.

Sehingga insyaallah kelak di akhirat pun dapat berkumpul dengan kekasih hati disurga.

Senin, 04 April 2016

HUKUM MEMBACA AL QURAN DENGAN GADGET

HUKUM MEMBACA AL QURAN DENGAN GADGET

Apa bedanya mengaji di Al Quran dengan di gadget?

Sebagai umat islam tentu kita mengenal kitab suci Al Quran yang diwahyukan pada Rasulullah SAW sebagai kitab suci terakhir dari Allah SWT bagi umat islam. Allah SWT berfirman yang artinya: “Dan kami turunkan kepadamu Alkitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri. (QS. An Nahl 89).

Mengaji atau membaca Al Quran ialah salah satu cara bagi kita untuk mendulang pahala dan rahmat sebanyak-banyaknya dari Allah SWT. Maka tidak heran jika kita merasa rugi melewatkan waktu begitu saja tanpa membaca Al Quran. Dengan kemajuan teknologi banyak orang yang mengaji melalui gadget dan perangkat elektronik lainnya.

Namun apa bedanya mengaji di Al Quran dengan gadget?

Karena rasa cinta kita kepada agama islam dan keinginan untuk memperoleh pahala sebanyak-banyaknya. Maka kitapun senantiasa membaca Al Quran dimanapun dan kapanpun. Namun karena beberapa kondisi mungkin kita tidak dapat membaca Al Quran melalui mushaf.

Seperti contohnya pada wanita yang sedang datang bulan tetapi ingin membaca Al Quran oleh karena itu didukung teknologi di era modern telah tercipta smartphone atau HP yang didalamnya bukan hanya terdapat perangkat komunikasi tetapi juga aplikasi Al Quran di smartphone tersebut. Maka sangat memungkinkan bagi wanita yang sedang datang bulan untuk membaca Al Quran. Selain wanita yang sedang datang bulan tentu banyak dari kita memanfaatkan smartphone untuk membaca Al Quran. Karena dinilai praktis dan dapat dilakukan dimana saja.

Tetapi bagaimana hukumnya mengenai hal tersebut?

Syaikh Abdul Rahman Bin Nasir Al Baroq pernah ditanyai mengenai hukum membaca Al Quran melalui smartphone tanpa bersuci dahulu. Beliau menjawab telah diketahui bersama bahwa membaca Al Quran diluar kepala tidaklah disyaratkan ia bersuci dari hadas kecil maupun besar. Tetapi membaca Al Quran daam keadaan bersuci maupun diuar kepala adalah lebih diutamakan karena ia merupakan kalam Allah dan dianatara kesempurnaannya tidaklah membacanya kecuali keadaan bersuci.

Dari sini maka smartphone atau alat-alat sejenisnya yang direkam didalamnya Al Quran tidaklah mengambil hukum mushaf karena keberadaan huruf-huruf Al Quran didalam alat tersebut berbeda dengan keadaan huruf-huruf didalam mushaf. Oleh karena itu dibolehkan baginya untuk menyentuh handphone atau kaset yang didalamnya ada rekaman Al Quran serta dibolehkan membacanya walaupun tanpa bersuci. Berbeda dengan membaca Al Quran di mushaf yang dimana kita harus mensucikan diri lebih dahulu.

Adapun perbedaan ialah membaca Al Quran di mushaf akan membuat kita lebih fokus karena mushaf hanya berisi ayat-ayat Al Quran saja. Namun jika membaca di gadget akan banyak aplikasi dan notifikasi pesan singkat yang mengganggu konsentrasi membaca Al Quran. Jika ada mushaf dan Al Quran dalam gadget sebaiknya kita memilih mushaf. Namun jika hanya terdapat gadget yang didalamnya terdapat Al Quran itupun kita dapat pilih asalkan kita tepap membaca firman-firman Allah SWT.

Allah berfirman yang artinya: “Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhoanNya kejalan keselamatan dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizinNya dengan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (QS. Al Ma’idah 15-16).

Minggu, 03 April 2016

ADAB DALAM MEMINTA TOLONG

ADAB DALAM MEMINTA TOLONG

Sebagai makhluk sosial merupakan suatu hal yang lumrah jika kita membutuhkan pertolongan orang lain. Terlebih lagi kepada Allah SWT karena kita tidak mungkin dapat bertahan hidup seorang diri didunia ini. Dalam islam sendiri meminta pertolongan disebut isti’anah dan ternyata berbagi dalam beberapa macam. Diantaranya:

Yang pertama adalah isti’anah atau meminta tolong kepada Allah SWT yaitu meminta tolong mengandung kesempurnaan sikap merendahkan diri dari seorang hamba kepada tuhannya. Menyerahkan seluruh perkara kepadanya serta meyakini bahwa hanya Allah lah yang bisa memberi kecukupan kepadanya.

Meminta tolong tolong seperti ini tidak boleh diserahkan kecuali kepada Allah SWT seperti dalam firmannya yang artinya: “Hanya kepada engkaulah kami menyembah dan hanya kepada engkaulah kami mohon pertolongan.” (QS. Al Fatihah :4).

Karenanya memalingkan isti’anah kepada selain Allah merupakan perbuatan kesyirikan yang mengeluarkan perlakuannya dari agama.

Selanjutnya isti’anah atau meminta tolong pada makhluk yang masih hidup dan ada ditempat, tapi pada perkara yang tidak mampu melakukannya maka hukumnya perbuatan ini sia-sia dan tidak ada gunanya. Contohnya meminta tolong pada orang yang lemah untuk mengangkat sesuatu yang berat. Sebaliknya adapula isti’anah atau meminta toong pada orang-orang yang mati secara mutlak yakni baik yang telah mati itu adalah nabi atau wali atau apalagi selain mereka. Meminta tolong jenis ini adalah kesyirikan karena dia tidak mungkin melakukannya kecuali dia meyakini orang-orang ini mempunyai kemampuan bersembunyi dalam mengatur alam. Dengan jelas meminta tolong seperti ini adalah haram dan merupakan kesyirikan.

Allah SWT berfirman yang artinya: “Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu: dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu.” (QS. Fathir 13-14).

Selanjutnya isti’anah dengan perkara amal-amal sholeh dan keadaan-keadaan yang dicintai Allah. Isti’anah jenis ini disyariatkan berdasarkan perintah Allah dalam firmannya yang artinya: “Minta tolonglah kalian dengan sabar dan shalat.” (QS. Al Baqarah 153).

Dan yang terakhir isti’anah atau meminta tolong kepada orang lain dalam perkara yang ia mampu lakukan. Hukum bagi isti’anah jenis ini tergantung pada perkara yang dimintai pertolongan padanya. Jika perkara tersebut kebaikan maka boleh dilakukan oleh orang meminta tolong dan yang dimintai tolong disyariatkan untuk memenuhinya. Hal ini berdasarkan firman Allah yang artinya: “Dan tolong menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa.” (QS Al Maidah 2).

Namun jika permintaan tolongnya dalam perbuatan dosa maka hukumnya haram bagi yang meminta tolong dan juga haram bagi yang memberi pertolongan. Seperti dalam firman Allah yang artinya: “Dan janganlah kalian tolong meneolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (QS. Al Maidah 2).

Adapun jika perkara mubah maka itu boleh dialakukan bagi yang meminta pertolongan dan bagi yang dimintai pertolongan bahkan orang yang menolong bisa jadi akan mendapatkan pahala karena berbuat baik pada orang lain dan jika demikian keadaanya maka justru menolong ini disyariatkan dirinya.

Berdasarkan firman Allah yang artinya: “Dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al Baqarah 195).

Namun meminta tolong tidak hanya sekedar meminta karena dalam islam kita harus memperhatikan adab atau tata cara meminta tolong. Seperti apa?

Seorang muslim yang beriman memang disyariatkan untuk saling tolong menolong dalam kebaikan dan mencegah dari kemungkaran. Namun bukan berarti setiap saat kita boleh terus menerus meminta bantuan kepada orang lain. Karena disamping diperintahkan untuk saling tolong menolong kita juga diperintahkan untuk menjadi muslim yang kuat. Ada 2 syarat utama dalam islam ketika kita meminta tolong kepada manusia.

Yang pertama adalah yang diminta pertolongan harus memiliki kemampuan. Kemampuan disini adalah kemampuan untuk memenuhi permintaan tersebut. Karena manusia sesungguhnya manusia adalah makhluk yang lemah dan memiliki banyak kekurangan, hanya Allah lah yang Maha Kuasa untuk mengabulkan segala permintaan hambanya.

Syarat kedua untuk meminta tolong adalah hadir atau berstatus hadir, maksud disini adalah orang tersebut ada dihadapan kita sehingga dapat mengutarakannya. Bisa juga orang yang kita mintai pertolongan terhalang jarak antara kita. Kita bisa memintanya melalui sarana komunikasi.

Disamping syarat utama tadi ada beberapa hal yang harus diingat dan diperhatikan ketika kita meminta bantuan kepada orang lain untuk menjaga hubungan baik kita pada saudara muslim lainnya. Seperti waktu, perhatikan apakah kita meminta banyak waktunya atau tidak, kalo iya apabila jika kita berusaha sendiri kalo perlu membalas dengan kebaikan yang lebih besar lagi. Karena waktu merupakan harta yang tidak dapat di kembalikan pada seseorang.

Tidak hanya itu kita juga harus memperhatikan intensitas dalam meminta bantuan karena meminta bantuan sesekali memang masih membuat seseorang yang dimintai bantuan tersenyum atau melakukanya dengan senang hati. Akan tetapi jika berlangsung terus menerus tiap hari ataupun jadi rutinitas si pemberi bantuan ini yang mesti dihindari. Karena hal ini dapat menyebabkan sesuatu yang menjadi ladang kebaikan pada si pemberi bantuan malah menjadi sebuah kezoliman untuknya.

Sabtu, 02 April 2016

HUKUM MENCELA ORANG YANG BERBUAT DOSA

HUKUM MENCELA ORANG YANG BERBUAT DOSA

Manusia memang makhluk ciptaan Allah SWT yang tidak pernah luput dari dosa, baik dosa besar maupun dosa kecil pasti kita pernah melakukannya. Dan malahan banyak juga diantara kita melakukan dosa tersebut dengan sengaja. Meskipun kita semua tahu bahwa kita sama-sama makhluk yang berdoa dan tidak sempurna, namun masih ada aja manusia yang mencela atau mengejek manusia lain yang melakukan perbuatan dosa. Hal ini mungkin lakukan lain karena mereka merasa bahwa dosa yang dilakukannya tidak sebesar dosa yang orang lain lakukan. Seperti contohnya ketika mengetahui orang lain mencuri terlontar kata: ih kok dia bisa mencuri, untung aku tak pernah melakukan perbuatan hina tersebut.

Padahal dalam islam terdapat hukum yang menjelaskan terkait manusia yang suka mencela dan mengejek orang yang berbuat dosa agar kita tidak termasuk golongan yang suka mencela orang lain yang berbuat dosa.

Sekecil apapun dosa yang dilakukan orang lain kita sebagai manusia juga kerap melakukan dosa tidak sepantasnya mencela orang lain yang berdosa. Karena didalam islam mengejek orang yang berbuat dosa hukumnya adalah tidak diperbolehkan.

Jangan sampai kita merasa diri kita ialah insan yang paling suci dan dapat bersih dari semua dosa. Mengenai mencela orang yang berbuat dosa terdapat sebuah hadis yang bersal dari Muaz Bin Jabal ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Siapa yang menjelek-jelekan saudaranya karena suatu dosa, maka ia tidak akan mati kecuali mengamalkan dosa tersebut.” (HR Tirmidzi no 2505).

Syaikh Al Albani berkata bahwa hadis ini mau’du.
Mengenai hadis tersebut Imam Ahmad menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah dosa yang telah kita obati sebagia manusia, seharusnya kita tidak boleh merasa dirinya bisa selamat dari dosa sehinggga mencela orang lain yang berbuat dosa. Maksud meremehkan disini adalah ia menyombongkan diri karena tidak melakukan dosa yang demikian. Padahal sebenarnya jika kita menjelek-jelekan perbuatan maksiat yang dilakukan orang lain maka perbuatan tersebut akan dipastikan kita lakukan dikemudian hari.

Ibnu Qoyim berkata bahwa setiap maksiat yang dijelek-jelekan pada saudaramu maka itu akan kembali padamu maksudnya dapat dipastikan melakukan dosa hal tersebut. Sebagai orang yang bertakwa memang semestinya mengingkari dan tidak berbuat kemungkaran ialah kita tidak melakukan sembarang kemungkaran, ikhlas karena Allah SWT. Dan bukan karena kesombongan sehingga membuat kita merasa layak mencela orang yang berbuat dosa.

Ta’yir adalah menjelek-jelekan dan mengandung makna kesombongan karena seseorang yang ta’yir cenderung akan meremehkan orang lain dan merasa dirinya bersih dari dosa. Perbuatan ta’yir inilah yang harus kita hindari agar kita ingat bahwa Allah SWT ialah satu-satunya yang dapat menilai dan menghakimi hambanya. Dan kita sebagai hambanya hanya makhluk yang tidak luput dari kesalahan.

Oleh karena itu kita harus dapat membedakan antara menasehati tujuannya ialah orang tersebut taubat dari dosa yang dilakukannya dengan menjelek-jelekkan yang tujuannya ialah menyombongkan diri. Karena saat kita ikhlas menasehati yang kita inginkan hanyalah orang lain lebih baik. Namun jika menasehati dengan unsur celaan maka unsur tersebut tidak lain agar orang lain melihat kita lebih sempurna.

Allah SWT berfirman yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki mencela kumpulan yang lain, boleh jadi yang dicela itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan mencela kumpulan lainnya, boleh jadi yang dicela itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat maka mereka itu orang-orang yang zalim.” (QS. Al Hujuraat 11).

Demikianlah hukum mencela orang lain yang berbuat dosa. Semoga dengan pemaparan diatas dapat menjadi pengingat bagi kita bahwa didunia ini terkadang melakukan kesalahan dan dosa. Sehingga kita mengejek saudara kita yang berbuat dosa, baiknya ialah kita saling mengingatkan agar sama-sam terhindar dari perbuatan dosa.

Jumat, 01 April 2016

ASAL USUL AIR DIBUMI MENURUT AL QURAN

ASAL USUL AIR DIBUMI MENURUT AL QURAN

Seperti kita tau air meliputi bumi 70% yang terus menerus menghidupi manusia dan alam sekitar secara berulang melalui siklus air mulai dari air tanah, air sungai, air laut, awan hingga kembali lagi menjadi air tanah lewat hujan. Maka tak heran tanpa air manusia tak akan mampu bertahan hidup atau lebih parahnya tanpa air kehidupan dibumi ini akan punah.

Namun pernahkah anda berpikir dari mana air dibumi berasal?

Seperti kita ketahui bersama air merupakan zat cair yang tidak berasa tidak berbau serta tidak berwarna dan hanya ditemukan dibumi sepanjang penelitian hingga saat ini. Berdasarkan reaksi kimia air merupakan campuran dari hydrogen dan oksigen yang kemudian disebut sebagai H2O.

Menurut ilmuwan dizaman dahulu, air berasal dari hasil ledakan bigbang 14 milyar yang lalu, yang kemudian melahirkan bumi dan proses rumit. Namun ternyata hal ini masih menjadi perdebatan para ilmuwan, hingga akhirya sebuah penelitian dipimpin Adam Sarafian dari Woods Hole Oceanographic Institution (WHOI) di Woods Hole Massachusetts Amerika Serikat mengungkap bahwa laut dipergerakan ada lebih awal di planet bumi daripada yang diperkirakan sebelumnya. Tidak hanya sampai disitu para ilmuwan tersebut juga menduga bahwa bumi lahir dengan keadaan kering kemudian saat usia bumi masih muda suatu energi membuat permukaan mencair, adapula anggapan tabrakan dengan kometlah yang membuat air mengalir dibumi dan molekul air dibumi terjadi karena proses penguapan atau tiupan angin dari ruang angkasa.

Namun untuk memastikan kebenaran hadirnya air dibumi penelitipun menganalisis meteoric. Pertama mereka melihat kandungan chondrite karbon pada meteor yang terbentuk bersamaan matahari. Asteroid vesta berusia sekitar 14 juta tahun hampir sama dengan kelahiran tata surya. Juga tak luput dari penelitian ini merupakan meteorid limited komposisinya dengan menyerupai tata surya. Mereka mempunyai banyak air didalamnya sehingga para ilmuwan menduga sebagai calon asal air dibumi. Peneliti memeriksa juga kandungan karbon chondrite pada asteroid vesta dan batuan dibumi. Ternyata batuan dibumipun mempunyai kandungan serupa asteroid vesta.

Horst Marschall ahli geologi WHOI berpendapat bahwa study ini menunjukan bumi menjadi planet yang basah karena munculnya air dipermukaan.

Sementara Neilsen memaparkan dengan mengetahui asal muasal air dibumi maka manusiapun bahwa mungkin planet lain sedang terjadi perbentukan air.

Sejak 14 abad silam Allah SWT menyebutkan dalam Al Quran bahwa Allah telah menurunkan air dari langit dalam firmannya yang artinya: “Dan Kami turunkan air dari langit dengan suatu ukuran, lalu Kami jadikan air itu menetap dibumi dan pasti Kami berkuasa melenyapkannya.” (QS. Al Mu’minun 18).

Dari ayat ini jelas bahwa sebelum ilmuwan meneliti dan mengetahui darimana asal mula air dibumi Allah lebih dahulu dalam Al Quran bahwa bumi dahulunya kering berulah Allah SWT menurunkan air dari langit. Sungguh Maha Benar Allah dengan segala firmannya.

Semoga informasi diatas dapat menambah pengetahuan serta meningkatkan keimanan kita kepada Allah SWT.

Amin amin ya robal ‘alamin